Nama   : Melly Fitriani

NRP    : G34100048

Laskar  : !9

Cerita ini menceritakan pengalaman saya yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembacanya dan dapat menginspirasikan bagi pembacanya untuk melakukan hal yang sama seperti saya atau pernah mengalaminya. Tetapi dalam cerita ini juga ada beberapa hal yang tidak pantas untuk dicontoh, karena saya juga hanya manusia biasa yang tak sempurna.

Cerita ini berawal ketika siswa-siswa kelas XII akan menghadapi Ujian Nasional. Pada awal semester genap kelas XII, perjuangan untuk menghadapi Ujian Nasional dimulai. Pada saat itu, sekolah mengadakan pengayaan atau dapat dikatakan belajar materi-materi yang akan diujikan dalam Ujian Nasional di luar jam belajar sekolah. Sekolah menetapkan jam pengayaan pagi hari, dimulai pukul 06.00 pagi, karena kondisi siswa-siswa masih fresh untuk menerima pelajaran. Oleh karena itu, saya harus berangkat dari rumah pukul 05.15 pagi. Tetapi, ternyata belajar  di pagi hari lebih masuk dibandingkan belajar tambahan setelah pulang sekolah, karena suasananya maish sejuk dan masih lengang (siswa –siswa kleas X dan XI belum datang ke sekolah). Walaupun belajar tambahan di pagi hari hanya 45 menit saja karena harus mulai belajar pelajaran jam sekolah, tetapi manfaatnya begitu besar.

Hari berganti hari, Ujian Nasional pun semakin dekat. Namun pada saat itu, saya merasa masih banyak pelajaran-pelajaran yang belum saya mengerti. Ujian Nasional merupakan salah satu hal yang ditakuti oleh siswa-siswa kelas XII, karena ujian tersebut merupakan tolak ukur kita untuk mendapatkan predikat ”LULUS”. Sejak saat itu saya mulai menghargai waktu, dalam artian saya harus menggunakan waktu seefesien mungkin, dan harus membagi waktu antara belajar  dan istirahat. Pada kondisi segenting itu, saya jatuh sakit. Badanku terasa sakit semua, demam, pilek, dan pusing-pusing menghampiriku. Karena kondisi seperti itu, saya tidak bisa belajar dengan maksimal. Walaupun kondisi badanku seperti itu, saya memaksakan untuk tetap berangkat sekolah. Namun apa yang diterangkan oleh guruku tidak dapat saya cerna secara maksimal. Sebelum saya sakit, saya kurang memperhatikan pola makan dan kurang minum, serta kurang istirahat, dikarenakan setiap hari berangkat pagi-pagi dan ada dua hari yang harus pulang hingga pukul 18.00. Ketika saya sakit waktuku terbuang begitu saja, yang biasanya pulang sekolah dapat mengerjakan latihan soal-soal UAN atau mengulang pelajaran sebelumnya, pada saat itu tidak sanggup lagi untuk memegang buku-buku pelajaran. Dan les-les yang biasanya dilakukan pulang sekolah, jadi tidak optimal. Sejak saat itu, saya sadar bahwa waktu itu sangat berharga karena waktu itu tidak dapat diulang atau dimundurkan. Waktu akan terus berjalan. Seperti pepatah “ waktu adalah uang” oleh karena itu, waktu sangat berharga.

Jadi pelajaran yang saya petik dari pengalamanku ini adalah janganlah kita menunda-nunda Sesutu hal dan jangan terlalu memforsir diri kita untuk melakukan sesuatu hal tanpa memperhatikan kondisi kita. Jika kita ingin menghadapi tes-tes akademik seperti itu, kita harus mempersiapkannya jauh-jauh sebelumnya, supaya kita tidak terlalu berat untuk belajar. kita hanya mengulangnya saja. Dan dalam pelaksanaan ujiannya pun akan lebih santai dan tidak terganggu dengan kondisi fisik kita.

Untuk yang para pembaca cerita ini, diharapkan untuk dapat memanfaatkan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya, dan selalu memperhatikan kondisi kesehatan kita.

Nama   : Melly Fitriani

NRP    : G34100048

Laskar  : 16

Cerita ini menginspirasikan saya untuk menjadi manusia yang tidak mudah menyerah dan akan selalu berusaha untuk mencapai sesuatu hal yang saya inginkan serta tidak lupa disertai dengan doa. Dalam cerita ini menceritakan penglaman-pengalaman dari salah satu teman saya sewaktu SMA. Dia adalah salah satu siswa yang pintar di kelas. Sewaktu dia duduk di kelas X, dia tidak mendapatkan juara kelas tetapi masih masuk 5 besar. Dan di kelas XI pun dia masih masuk 5 besar. Dia siswa yang aktif, selalu bertanya jika ada yang belum dimengerti. Tidak hanya di dalam kelas, dia belajar di manapun dan kepada siapapun. Dia juga suka membantu teman-temannya dalam dal pelajaran. Pada jam istirahat, dia selalu menyempatkan diri untuk sholat Dhuha.

Dia aktif dalam organisasi. Dia merupakan salah satu anggota osis, PMR, dan dia juga merupakan ketua dari organisasi Rohis. Dia dapat membagi waktunya untuk belajar dan berorganisasi dengan, sehingga dia msih bisa masuk dalam peringkat 5 besar di kelasnya. Saya tidak tahu bagaimana ia belajar dan prestasi dia saat kelas X karena saya tidak satu kelas dengannya. Saya baru mengenalnya saat kami duduk di kelas XI kebetulan kami satu kelas sampai kelas XII. Semangat belajarnya sangat tinggi, oleh karena itu akhirnya dia mendapatkan peringkat pertama saat kelas XII semester pertama.

Tingkah lakunya yang sopan, ramah, dan selalu tersenyum kepada siapapun, membuatnya disenangi siswa-siswa lain. Leh karena itu, siswa-siswa lain tak segan-segan untuk meminta bantuan kepadanya dalam hal pelajaran. Namun, dia tidak terlalu dekat dengan temannya yang perempuan, dia agak menjaga jarak kepada perempuan. Maklum dia kan islami banget, tetapi tidak seislami temannya yang satu organisasi (Rohis) dan kebetulan satu kelas dengan kami.

Pada saat menjelang UAN, dia mengusulkan untuk mengadakan kelompok-kelompok belajar dan membagi siswa-siswa yang lebih pintar untuk mengajarkan teman-temannya yang belum bisa. Tetapi usulan tersebut tidak berjalan lama, padahal ide tersebut sangat bermanfaat bagi kami. Setiap kali mengerjakan ujian-ujian seperti ulanagan harian, ujian semester, dan ujian akhir nasional, dia selalu percaya diri dengan kemampuannya karena dia sudah mempersipkannya jauh-jauh hari.

Saat semester genap dimulai, dia mulai rajin mengunjungi ruang BP diikuti dengan siswa-siswa lainnya untuk mecari informasi tentang penerimaan mahasiswa baru melului jalur PMDK dan pembukaan pendaftaran perguruan tinggi. Dia mencoba mengajukan beasiswa yang dikeluarkan oleh ITB. Dia berkenginan untuk masuk ITB, oleh karenanya dia mengikutu Ujian masuk yang diadakan leh ITB. Tetapi, dia kurang keberuntungan tidak memihak kepadanya. Namun dia tidak terfokus pada ITB saja, dia juga mencoba untuk mengikuti ujian masuk UGM, tetapi hasilnya sama saja seperti apa yang didapatkan pada ujian sebelumnya, dia belum lolos. Dia tidak menyerah, dia tetap berusaha untuk memcapainya. Dia mengumpulkan soal-soal ujian tahun kemarin, meminjam buku-buku kumpulan soal.tidak hanya mengumpulkan saja, tetapi dia berusaha memecahkan soal-soal tersebut. Dan dia tidak segan-segan bertanya kepada siapapun yang bisa mengerjakan soal tersebut jika dia tidak bisa mengerjakannya.

Setelah Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah selesai diadakain, otomatis tidak ada kegiatan belaja dan mengajar lagi, tetapi yang ada hanya siswa belajar sendiri untuk mempersiapkan mengikuti ujian masuk ke universitas tetapi jika ingin menlanjutkan sekolahnya. Tidak sedikit siswa yang memilih rebut, membuat kegaduhan, tetapi ada juga yang tetap belajar untuk mempersiapkan ujian-ujian yang diikutinya. Suatu ketika ada salah satu teman kami yang merasa terganggu dengan situasi tersebut, dia protes kepada ketua kelas karena kegaduhan kelas. Padahal ketua kelasnya pun ikut andil dalam kegaduhan tersebut. kemudian teman saya yang ingin melanjutkan seklahnya di ITB tersebut berusaha menengahi masalah tersebut. Dia juga ingin belajar dengan tenang sama seperti temannya yang prtes itu tetapi dia masih bisa belajar dengan keadaan tersebut bahkan sesekali dia ikut bergabung untuk mencairkan ketegangan otaknya.

Tinggal satu kesempatan terakhir untuk masuk universitas yang diidam-idamkannya itu, yaitu melalui jalur SNMPTN. Jika melalui jalur tersebut tidak lolos, maka dia harus bersabar untuk menunggu tahun depan untuj bisa mengikuti ujian masuk ke universitas yang diinginkannya. Dengan usaha yang maksimal dan dibarengi dengan doa kepada Allah SWT, akhirnya dia lolos dan masuk di universitas yang di damba-dambakannya itu, tidak tanggung-tanggung bahkan masuk dalam jurusan yang favorit di perguruan tinggi tersebut.

Pelajaran yang saya petik dari pengalaman teman saya itu adalah jika kita berusaha dan disertai dengan bertawakal kepada Allah, berdoa kepada Allah, insyaAllah akan tercapai. Selain itu, jika kita memiliki ilmu, kita harus membagi ilmu kita kepada siapun. Dengan cara itu, ilmu kita akan bertambah dan tidak akan hilang.

Search
Archives